
Beberapa waktu lalu, saya berniat untuk mengajarkan anak saya beberapa modul grammar bahasa Inggris dari buku yang saya tulis. Saat itu saya sedang semangat-semangatnya, tetapi ternyata anak saya menolak dengan alasan “aku ngga suka belajar teori untuk bahasa…”
Inilah mengapa saya tuliskan di postingan kali ini. Saya yakin bukan hanya anak saya saja yang punya pemikiran semacam itu, apalagi kalau kamu berpikir sudah bisa berkomunikasi dengan baik (bisa paham apa yang lawan bicara katakan, dan lawan bicara juga bisa mengerti apa yang kita katakan).
Saya jelaskan kepada anak saya, tata bahasa itu tetap perlu diketahui & dipahami. Tidak perlu dihafal, yang penting dimengerti. Tidak perlu dianggap rumus, karena dalam bahasa itu tidak ada rumus, hanya ada Pola. Tidak perlu mengerti keseluruhan tata bahasa, karena tujuannya bukan untuk menjadi grammarian. Dan yang terpenting, tata bahasa ini akan sangat berguna dalam penulisan (writing). Kalau sekedar komunikasi atau ngobrol, memang tidak perlu sesuai aturan tata bahasa, yang penting sama-sama ngerti. Istilahnya, “yang penting i know – you know, uda cukup.” Betul? Beda dengan tulisan, karena harus sesuai dengan aturan tata bahasanya, kecuali tulisannya untuk pribadi seperti nulis diari atau surat-suratan ke teman.
Nah, penekanan kepada writing ini terutama cocok untuk anak / remaja, karena masih dalam tahapan sekolah / pendidikan. Apabila kedepannya ingin melanjutkan pendidikan ke sekolah internasional atau bahkan keluar negri, yang negaranya menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama, tentu akan ada banyak tugas-tugas writing. Dan writing dalam pendidikan, menurut saya, tidak boleh sembarangan. Saya dulu ketika kuliah S2, menulis tugas itu perlu pakai format tertentu, perlu ada daftar isi, font tulisan ditentukan, dll. Penampilan (bentuk tulisan/wadah) saja sudah harus formal, apalagi isinya, tentu harus formal / baku dan sesuai dengan aturan tata bahasa. Sampai sini paham, ya?
Selain itu, dari apa yang saya pelajari selama ini, seseorang yang writing skill-nya baik, pasti skill bahasa Inggrisnya juga tinggi, apakah itu grammar-nya, reading komprehensif-nya, termasuk listening & speaking-nya. Namun orang yang hanya bisa komunikasi lisan, belum tentu. Maka itu, prinsip saya dalam menentukan skill bahasa Inggris seseorang itu harus dari tulisan. Dari tulisan yang dibuat akan tampak seberapa tinggi pemahamannya dalam bahasa Inggris. Ngomong-ngomong, kalau untuk test skill seperti itu tentu harus dadakan & ada waktunya. Karena jika direncanakan dan tidak ada batasan waktu, bisa-bisa tulisannya di buat sama AI.
So, belajar grammar itu perlu, basic sampai intermediate sudah cukup untuk dikatakan “jago”, kecuali mau sampai bisa menulis jurnal ilmiah, beda lagi ceritanya. Perlu lanjut sampai advanced. Dan… jangan lupa praktek, karena belajar tata bahasa ajah tetapi tidak dipakai, sama aja boong. Semangat!
