
Saya adalah seorang pecinta kopi. Titik.
Biasanya saya minum kopi hitam di pagi hari setelah bangun tidur, lalu jika lagi hangout atau memang lagi ingin minum kopi, saya ngopi lagi di siang hari. Kalau nurutin keinginan, paling enak siang-siang tuh minum kopi dingin dari cafe, dan memang hal tersebut yang cukup sering saya lakukan beberapa bulan lalu.
Karena saya masih WFH, kalau siang-siang kepingin kopi dingin, saya kabur sebentar ke cafe yang cukup dekat dan take-away kopi. Atau jika saya lagi merasa malas keluar karena cuaca panas tapi merasa butuh kopi, saya pesan pake gojek ato grab.
“wah, min, ngga sesuai prinsip financial planning, dong!” Ya well, ngga juga sih, karena salah satu prinsip finansial yang saya percayai, boleh-boleh saja mengeluarkan uang untuk “what’s most important” (hal paling penting) namun artinya untuk hal lainnya perlu dihilangkan. Dengan kata lain, jika menurut saya membeli kopi dingin itu yang paling penting, saya bisa menggunakan uang saya untuk hal tersebut, tetapi untuk hal lainnya saya harus korbankan, karena bagaimanapun setiap pengeluaran tetap harus ada batasannya.
TAPI… setelah berjalan beberapa lama, pikiran itu tetap masuk ke otak “sebenernya sayang juga ya, setiap beli kopi dingin 20 ribuan”, dimana jika 1 minggu saya beli 3x saja, sudah 60rb, dalam sebulan jika 4 minggu maka sudah 240rb, hanya untuk beli kopi dingin ala cafe. Ini jika hitungan 1 kopi 20 ribu. Jika lebih, misalnya 25 ribu/kopi, maka hitungannya sudah 300 ribu / bulan.
Maksud hati sih ingin menghemat, tetapi saya tidak bisa menghilangkan kecintaan saya terhadap kopi. Jika kalian yang membaca postingan ini juga pecinta kopi, kemungkinan kalian akan mengerti perasaan saya. hahaha… Dan lagi, kopi yang saya buat dirumah tiap pagi itu berbeda dengan kopi yang dibuat di cafe, karena sepemahaman saya [waktu itu], kopi yang dibuat di cafe itu dibuat dari biji kopi yang digiling fresh setiap ada pesanan, jadi pasti sulit jika membuat sendiri, mesin gilingnya sendiri mahal.
Suatu kali, ketika saya sedang menunggu pesanan saya di salah satu cafe, saya melihat satu hal yang cukup mengejutkan bagi saya. Saya melihat satu barista mengambil 1 cup kosong, menuang gula cair, mengambil dan menuang susu, menuang 1 sloki berisi kopi hitam, mengambil & mengisi es batu ke cup, menutup cup, selesai. Lalu dia melakukan hal yang sama lagi untuk beberapa cup selanjutnya, sebelum akhirnya nama saya dipanggil.
Sambil jalan pulang, saya berpikir “hm.. kopi-kopi nya ngga digiling tapi uda ada di sloki-sloki kecil”. Dari situ saya kemudian terpikirkan untuk mencari produk di salah satu ecommerce, dan ternyata benar ada! Ternyata kopi cair espresso itu dijual bebas. Selama ini saya berpikir kalau kopi espresso itu perlu digiling fresh ketika ingin membuat kopi, ternyata tidak perlu juga. Buktinya di cafe yang saya lihat sebelumnya itu juga demikian. Sepertinya barista itu menggiling kopi nya terlebih dahulu, lalu ditempatkan di sloki-sloki kecil. Ketika ada pesanan, tinggal tuang. Jadi tidak perlu menggiling lagi, waktu proses lebih cepat.
Nah! dari situ saya mulai bereksperimen. Saya memesan kopi cair espresso dari toko terdekat rumah, menggunakan kurir sameday sehingga ongkir tidak bikin gigit jari. Sebelumnya saya juga memesan susu cair dan kotak untuk membuat es batu. Saya persiapkan semua bahannya, kecuali gula cair. Kebetulan saya memang tidak suka gula karena menurut saya sifat manis dari susu sudah sangat cukup untuk si kopi. FYI, selama saya membeli kopi di cafe pun saya selalu bilang “gulanya sedikit saja” karena ternyata kalau tanpa gula tidak bisa. Jadi semua bahan saya beli, saya sesuaikan juga besarannya agar tidak terlalu banyak per-sekali beli tapi juga tidak terlalu sedikit agar tidak perlu sering beli & menghemat ongkir.
Akhirnya, seperti gambar di post ini, saya bisa membuat kopi rasa cafe di rumah saya sendiri, tuang kopi cair, tuang susu, tuang batu es, lalu masukkan ke tumbler untuk menjaga suhu dingin lebih lama. Secara rasa, bagi saya sudah mirip dengan kopi di cafe. Dengan intensitas pembuatan kopi yang lebih sering dari yang saya sebutkan diatas, total pengeluaran kopi dingin saya masih jauh lebih murah daripada beli di cafe. Saya masih bisa menikmati kopi kesukaan saya, dan saya juga bisa menghemat.
Ini hemat ala gue! bagaimana dengan loe?
