Sultan sebenarnya

Di post sebelumnya saya menulis tentang sebutan sultan, yang mana kondisi keuangan orang yang disebut sultan itu belum tentu sesuai realita. Contohnya jika dia beli mobil tetapi ternyata nyicil 7 tahun, tanda tanya, dah. Apalagi kalau ternyata selain cicilan mobil dia juga ada cicilan-cicilan lain… maka sudah dipastikan orang tersebut Bukan benar-benar orang yang selevel sultan.

Penampilan luar memang tidak dapat memberikan informasi pasti mengenai keuangan seseorang. Yang saya maksud dengan penampilan luar seperti baju keseharian, mobil, rumah, barang-barang yang dibawa sehari-hari. Seperti contoh yang saya sebutkan diatas, jika dia punya mobil keren tapi cicilannya panjang x besar, sama ajah boong. Apabila ada rumah 1M-an tapi nyicil 30 tahun, keuangannya sudah dipastikan dalam bahaya. Dengan kata lain, pada dasarnya kita tidak bisa mengetahui kondisi keuangan seseorang kecuali memang kita dekat dengan orang tersebut luar dalam.

Saya punya seorang kenalan yang saya sering lihat keseharian penampilannya biasa saja, kemana-mana naik motor, pakaian kaos, celana jeans, sepatu kets, suka bawa bekal. Tetapi siapa sangka, ternyata beliau punya rumah [yang sedang disewakan] di satu kawasan elit, yang mana harga pasaran rumahnya diatas 3M. Rumah utama (yang ditempati) juga luas dan ada toko. Selain itu saya juga mengetahui bahwa kedua anaknya kuliah di luar negri dengan biasa sendiri, artinya finansialnya sangat baik karena biaya perbulan untuk kedua anaknya pasti tidak murah. Menurut saya orang seperti ini yang layak disebut sultan.

Oiya, saya lupa apakah pernah menuliskan ini… pengalaman saya dulu bolak-balik ke bank (karena pekerjaan saya dulu melibatkan kunjungan ke bank-bank), saya sering memperhatikan nasabah-nasabah ketika menunggu antrian CS. Salah satu yang saya perhatikan, kebanyakan nasabah-nasabah prioritas biasanya berpenampilan biasa saja.. berkaos, ada pula yang celana pendek, dan ada pula yang pakai sendal jepit. Penampilan jauh dari mewah, tetapi mereka mendapatkan pelayanan luar biasa di bank, masuk ke ruangan khusus, disamperin petugas, dan pastinya tidak pakai antri. Mereka-mereka inilah yang sultan sebenarnya.

Kesimpulannya apa, min?” menurut saya, tidak perlu caper untuk sebuah sebutan sultan, deh. Yang perlu adalah menjadi sultan beneran. Bener, gak? Mari kita amin-kan bersama.

Amin!