
Belum lama kemarin saudara saya ikut tur ke Eropa. Info yang saya dapatkan, perjalanan 12 hari ke 8 negara di Eropa Barat, biaya sudah termasuk tiket pesawat, bis dan hotel dengan sarapan. Harganya? 38 juta/pax. Yup, tiga puluh delapan juta rupiah per-orang… Saya lupa bertanya apakah sudah termasuk biaya visa. Anggap saja sudah, deh. Jadi disana tinggal makan siang-malam dan belanja pribadi yang harus bayar lagi. Apakah ini mahal?
Sudah lama saya sebenarnya mengetahui kalau tur ke Eropa itu mahal-mahal (pasti diatas 20 juta), karena kalau bertanya kepada teman atau rekan yang pernah kesana dijawabnya “memang segitu harganya” sehingga saya sedikit banyak terpengaruh dengan mindset tersebut. Ya karena saya memang belum pernah ke Eropa jadi saya juga tidak bisa mengatakan hal sebaliknya.
Namun ada hal yang membuat saya kemudian membahas soal ini kembali, yaitu ketika saya diceritakan dengan cukup detil perjalanan tur Eropa oleh saudara saya tersebut. Dari apa yang saya perhatikan, tur ini pada dasarnya hanya mengantar ke tempat tujuan lalu peserta bisa melakukan apa yang diinginkan (biasanya tentu foto-foto). Jadi selama saudara saya cerita, rasanya saya mendengar “kami pergi kesini….” sambil memperlihatkan foto-fotonya, “trus kami naik bis kesini….” (sambil saya melihat foto lagi), “ini disini…” (foto lain lagi). Dengan kata lain, saya menangkap bahwa tur ini seperti asisten dan supir. titik.
Nah, dari situlah saya kemudian memutuskan bahwa kalau “hanya sekedar” untuk asisten dan supir, tentu 38 juta untuk 12 hari itu mahal. Dua belas hari nya pun kemungkinan besar 2 hari di pesawat, karena saya tau saudara saya itu baru pergi ke bandara di sore hari, kemudian di hari terakhirnya itu dari pagi sudah jalan ke bandara (jadi setelah sarapan di hotel, pengurusan checkout dan langsung ke bandara).
“tiket dan hotel di Eropa kan mahal, min?” Tergantung. Kalau bisa cari tanggal low season dan apalagi ada promo, pasti murah. Saya baru saja cari sampling tiket jakarta ke eropa. Ada, lho yang harga tiketnya 10 juta PP jakarta eropa, dengan pesawat yang bukan abal-abal juga. Untuk hotel, paling efektif kalau bisa berangkat berdua, jadi cost nya di split. Katakan hotel [yang ada merek] harganya semalam 2 juta, maka jika split 2 cost nya menjadi 1 juta/malam. Kalau mau pakai hotel tanpa merek tentu bisa jauh lebih murah.
Akomodasi mungkin yang paling ribet, karena jika pakai tur, maka bis yang akan menunggu kita. Tetapi jika kita pergi sendiri, kita yang harus mencari transportasinya, kemudian menentukan mau kemana saja. Yah memang ini, kan yang membedakan antara pakai ‘asisten / supir’ atau tidak. Tapi kalau harus bayar +-10 juta lebih mahal per-orang hanya untuk asisten, kemahalan, dong.
“Ngomong doang, min, apa emang bisa dilakukan?” Bisa, dong. Kita lihat nanti ketika saya jalan ke Eropa. Yang pasti tidak tahun ini karena Juli ini saya sudah beli tiket dan hotel ke Jepang. Saya tidak cerita sekarang. Tunggu tanggal mainnya 😀
