
Pada dasarnya setiap manusia memiliki sifat egois. Egois artinya mementingkan kepentingan diri sendiri. Istilah lainnya: mau menang sendiri, ingin kemauan sendiri diikuti, tidak mau dikritik, dll.
Kalau saya baca, egoisme itu sebenarnya baik dalam konteks tertentu. Sifat egois ini sangat membantu ketika misalnya manusia berada dalam kondisi yang genting atau terjepit, dimana instingnya akan membuat dia menyelamatkan diri sendiri dahulu. Masuk akal, kan? Jika diri sendiri saja tidak bisa selamat, bagaimana membantu orang lain? Dengan dia membuat dirinya baik dulu, barulah dia kemudian bisa menyelamatkan orang lain.
Lalu bagaimana ketika egoisme-nya berlebihan? Menurut saya, sebagai manusia yang memiliki akal budi, kita harus dapat lebih membawa diri (a.k.a sadar diri). Apakah pantas jika kita melakukan suatu tindakan egois yang berlebihan? Apakah tidak malu ketika kita mementingkan diri sendiri diatas kepentingan orang banyak? Selain itu, ingatlah bahwa apa yang kita tidak mau orang lain lakukan kepada kita, jangan lakukan itu kepada orang lain.
Saya menulis post ini karena beberapa waktu lalu saya membaca berita tentang satpol yang membongkar “garasi pribadi” di sebuah jalan umum. Perhatikan gambar di post saya ini. Ada sebuah mobil diparkir di jalanan. Mobil tersebut ditutup selimut mobil lalu disekelilingnya ada besi-besi pembatas yang diberikan rantai. Jika melihat gambar itu pasti kamu juga langsung tau bahwa lokasinya ada di jalanan umum. Memang bukan jalan besar, modelnya sepertinya gang, tetapi tetap saja disebut jalanan umum -> jalanan yang dibuat untuk orang banyak. Bayangkan, jalanan itu sudah cukup kecil (gang), dimana untuk lalu lalang saja sudah sulit jika kondisi agak ramai, apalagi ditambah besi-besi pembatas tersebut. Bukankah “luar biasa” pemilik mobil tersebut? Ini yang saya sebut sebagai contoh egoisme yang ekstrim.
Seandainya saya mengalami sendiri situasi yang seperti di gambar itu, ingin rasanya saya menempelkan di mobil itu sebuah kertas gambar besar bertuliskan “Sadar diri, boss! Memangnya ini jalanan nenek moyang lu?”
