
Belum lama kemarin saya menonton serial drakor yang menarik. Ceritanya ada sekumpulan dokter dari sebuah RS yang ditugaskan untuk mengikuti kegiatan sukarela (volunteer) disuatu negara. Sekumpulan yang saya maksud 5-10 orang (saya lupa pastinya), terdiri dari dokter & perawat.
Ketika sudah tiba di tempat tujuan, awalnya semua berjalan lancar dan aman. Kegiatan lebih banyak ke pemberian obat, vaksin, atau informasi kepada penduduk setempat. Semua terlihat senang dan bisa keliling lihat pemandangan. Namun….. setelah waktu berjalan beberapa lama, siapa sangka ada kejadian-kejadian tak terduga, ekstrim pula. Yang paling ekstrim, gempa bumi. Gempa bumi terjadi di daerah tersebut dan meruntuhkan bangunan yang cukup besar. Aksi penyelamatan orang-orang yang tertimpa runtuhan, tangisan, luka, kematian… speechless. Jangankan tidur, untuk makan saja harus cepat dan apa adanya karena fokus utama adalah penyelamatan. Setelah gempa bumi, terjadi pula kondisi yang tidak menyenangkan lainnya, yaitu penyakit menular. Karena lokasinya jauh dari perkotaan, fasilitas perawatan & obat-obatan yang terbatas, situasi tersebut menjadi ekstrim. Akhirnya semua bisa teratasi, dan setelah kurang lebih sebulan, sekumpulan dokter tadi bisa pulang ke kotanya. Bisa dibayangkan betapa bahagianya mereka setelah bisa kembali dengan tanpa kekurangan suatu apapun.
Nah, yang ingin saya sampaikan bukan cerita drakornya, tetapi salah satu scene ketika para dokter&perawat itu sudah kembali & bekerja lagi di rumah sakit. Saat sedang lunch bersama di RS sambil ngobrol, ada seorang rekan yang tidak ikut volunteer kemudian berbicara [yang jika diartikan kira-kira]… “ah, volunteer mah enak, tinggal duduk urusin obat dan vaksin doang…“. Secara refleks, dokter&perawat yang sudah pulang volunteer tadi langsung melihat si rekan kerja itu sambil bereaksi dengan muka yang kesal & seperti mau melempar alat makan.
Itulah momen yang menurut saya sangat menggambarkan definisi “asumsi”. Orang yang tidak mengalami, kemungkinan besar tidak memahami apa yang benar-benar terjadi sehingga kemudian memberikan pendapat yang berbeda dari orang yang benar-benar mengalami.
Kalau saya ada dalam posisi dokter/perawat tadi, saya juga pasti akan bereaksi dengan kesal & mungkin akan ngomong “enak nenek moyang lu! Lu kaga tau aja disana ada apa. Gue kasitau, disana ada gempa bumi, orang-orang banyak mati. kita harus cari orang di reruntuhan. Kaga bisa tidur, orang luka ada dimana-mana. Belon lagi penyakit menular, nunggu obat dari kota berapa lama, bahkan dokter xx hampir mati juga….”
Oke, saya nulis sambil jadi agak emosi juga, nih. wkwkwk… kita kembali ke laptop saja.
Jadi, menurut saya, mari kita berusaha untuk menghindari asumsi. Jika kita tidak paham situasi, atau mengalami kondisi yang sedang dibicarakan orang lain, sebaiknya tidak berasumsi, sebaiknya tidak mengambil kesimpulan sendiri. Akan lebih baik mendengar saja, atau bertanya dahulu apa yang dirasakan si pembicara, sebelum kita memberikan pendapat.
Well, teorinya sih gampang. Tapi prakteknya pasti sulitttt… dan bagi penonton, kejadiannya sih lucu, jadi memang cocok ketika dimasukkan ke dalam drama. hahahahaha
