Jalan Tuhan

Bulan lalu saya ada jadwal meeting onsite dengan salah satu Client, padahal kaki saya saat itu sedang luka, jadi saya perlu merencanakan perjalanan saya ke Lokasi agar tidak terlalu banyak jalan… namun tetap murah ongkosnya. Dengan kata lain, tidak bisa naik transportasi online karena ongkos tinggi. Hahaha

Paling murah sebenarnya naik kereta KRL, biaya hanya beberapa ribu rupiah untuk sampai ke stasiun yang terdekat dengan Lokasi kantor, hanya saja jalan kakinya cukup jauh, sekitar 1 kilo. Karena kondisi kaki yang sedang luka, saya takut akan bermasalah, jadi saya memilih untuk mencari alternatif lain.

Transportasi murah lainnya adalah busway, dan kebetulan ada halte baru dekat kantor yang belum pernah saya coba. Hanya saja saya tidak tau rute busway untuk sampai ke halte tersebut. Maka saya coba cari-cari informasi mengenai rute tersebut. Sayangnya, informasi yang saya temukan tidak terlalu jelas. Lalu saya pikir, jika salah rute akan buang waktu dan kemungkinan saya jadi terlambat. Pada akhirnya saya memilih untuk naik kereta saja, dan berharap jalan kaki 1 kilo tidak akan membuat kaki saya tambah parah.

Di hari H, saya siap-siap, lalu minta tolong suami untuk antar ke stasiun terdekat. Rumah kami berada dalam kawasan perumahan besar, jadi kalau mau ke stasiun perlu keluar dari kawasan dulu. Baru setengah jalan keluar kawasan, kami melihat cukup banyak motor yang jalan berlawanan arah. Langsung suami berkata “wah, kayanya di depan macet parah, motor-motor putar balik”. Segera saya melihat gugel map dan ternyata memang jalanan keluar kawasan merah padam. Oya, kondisi separah itu biasanya sangat jarang terjadi, jadi hari itu pasti ada yang kejadian unexpected sehingga macet parah.

Semakin mendekat jalanan keluar kawasan, saya sudah melihat banyak mobil-mobil seperti parkir, dan otomatis berkata “aduh, parah dah”. Maka kemudian suami saya berinisiatif untuk mengambil jalan lain yang kemungkinan tidak terkena imbas macet, toh kami menggunakan motor, jadi mestinya masih mudah lewat meski via jalan kecil. Sayangnya, karena macet yang memang agak laen, naik motorpun terhambat. Pada akhirnya, kami harus mengambil jalan yang semakin menjauhi stasiun sehingga suami bertanya apakah dia perlu mengantar sampai kantor. Saya melihat jam, lalu menjawab “tidak usah, jauh. Pulogadung saja, dari situ buswaynya steril, jadi keburu.”

Sampai di terminal Pulogadung, saya segera bertanya ke petugas busway untuk rute yang melewati kantor, setelah itu langsung naik busway-nya. Sebenarnya sudah cukup lama saya tidak naik busway, jadi setelah duduk di dalam busway, saya langsung searching halte terdekat kantor untuk persiapan turun nanti.

Ketika saya mencari-cari info, saya kaget, “lho, ini kan halte baru yang dekat kantor…” Jujur saja saya agak bingung karena di area kantor memang ada beberapa halte busway, dan nama-nama haltenya juga membingungkan. Saya terus searching sana-sini, sampai melihat maps untuk memastikan posisinya, dan ternyata benar… busway yang saya naiki ternyata melewati halte baru di depan kantor.

Puji Tuhan! Pada akhirnya saya benar turun di halte depan kantor tersebut, dan saya hanya perlu berjalan kaki sebentar saja untuk tiba di kantor. Selain itu, saya tidak terlambat untuk meeting.

Jalan Tuhan itu menurut saya memang unik, most of the time (seringnya) kita tidak akan bisa membayangkan “rute-rute”nya, tetapi saya percaya, tujuan akhirnya selalu sama.. untuk kebaikan kita… sesuai dengan yang kita butuhkan. Amin!