Disrupsi perjalanan

Ini adalah postingan spesial atas dasar pengalaman & pendapat pribadi, semoga bisa menjadi tambahan wawasan kita semua.

Seperti yang kita ketahui, tanggal 4 September lalu, tepatnya di malam hari, Gunung Anak Krakatau erupsi. Dari yang saya baca di berita, aktivitas si gunung itu berlangsung cukup lama, sampai besoknya.. sehingga abu vulkaniknya cukup banyak terbang kemana-mana. Pada hari yang sama, tanggal 4 Sep, tetapi di pagi hari, saya dan keluarga melakukan trip ke Surabaya untuk menghadiri acara penting di tanggal 6 Sep. Karena memang aktivitas gunungnya belum start pagi, maka perjalanan saya dengan pesawat berlangsung normal, aman, lancar. Sebelum trip tersebut saya sudah merencanakan semuanya, dari tiket pulang pergi, hotel, wisata kemana, sampai parkir inap. Ya, saya bawa mobil ke bandara karena berpikir akan pulang tanggal 6 Sep, hanya 2 malam saja. Everything was normal until the last day (semuanya lancar-lancar sampai di hari terakhir)….

Acara saya start pagi-pagi sehingga dari sejak bangun tidur sudah sibuk. Sampai saat itu, saya belum mengetahui berita mengenai erupsi gunung, abu vulkanik atau penutupan bandara. Boro-boro lihat berita, cek chat saja hanya bisa sekilas-sekilas karena harus agak buru-buru. Setelah acara berlangsung dan saya & keluarga sudah duduk manis di dalam gedung, tiba-tiba ada saudara saya bertanya di chat “bandara ditutup, penerbangan u nanti gimana?” sambil memberikan link berita. Waktu saya lihat itu, saya baru baca beritanya. Di berita itu dikatakan kalau bandara Soekarno Hatta ditutup sampai jam 09.30. Karena saya sambil mengikuti acara, saya baca berita dengan cara cepat, lalu balas chat saudara saya “mestinya aman kalau tutupnya sampai jam 9.30 aja, soalnya pesawat gw sore”.

Ternyata…. sekitar jam 10 pagi, maskapai penerbangan saya memberikan blast chat, mengatakan kalau penerbangan kami dari Surabaya ke Jakarta dibatalkan! Jujur saya langsung kaget, karena kejadiannya mendadak. Setelah itu saya langsung fokus ke cari penerbangan alternatif sambil terus baca-baca berita. Saya tambah pusing karena ternyata semua penerbangan ke arah Jakarta dibatalkan semua. Semuanya… jadi maskapai apapun tidak bisa. Saya langsung pusing berpikir mengenai persediaan amenities-baju yang sudah habis, besok harus kerja, hal-hal rumah yang harus segera diurus, mobil yang masih di bandara. Pusing, kan?

Keluarga saya lalu memberikan saran untuk bertanya ke sopir kami di Surabaya itu, apakah bisa antar sampai Jakarta.. karena jadwal sewa mobilnya sebenarnya sampai jam 10 malam, jadi kalau kami bisa keluar acara lebih awal lalu langsung trip, kelihatannya masih oke…. tentu dengan tambahan biaya untuk tol, bensin & jasa sopir yang harus kembali ke Surabaya. Awalnya sopir tersebut mengatakan “bisa” sehingga saya sedikit tenang & berusaha kembali fokus ke acara. Namun demikian, sekitar jam 1 siang tiba-tiba sopirnya mengatakan kalau kantornya perlu charge biaya tambahan 10 juta jika ingin drop sampai Jakarta. What??? Saya sekaget itu melihat angka yang di forward dari sopir. Akhirnya kami batal pakai sopir tersebut. Dan… karena sudah agak siang, ketika kami coba cari-cari tiket kereta & bis online, sudah habis. Sold Out! untuk hari itu.

Puji Tuhan! saya dan keluarga akhirnya bisa mendapatkan rental mobil ke Jakarta dengan harga +- separuh harga sopir sebelumnya. Meskipun berangkatnya agak sore karena cukup mendadak, kami akhirnya bisa tiba di Jakarta hari Senin subuh. Badan lelah tetapi tujuan tercapai. Biaya membengkak tetapi bisa pulang ke rumah. Ini mungkin yang membuat saya masih bisa tersenyum. Pengalaman yang baru pernah saya rasakan sekali ini dalam seumur hidup. “Terdampar” di kota lain, persediaan & bawaan habis, seluruh penerbangan ditutup, kereta & bis full book. Luar biasa!

Satu hal, saya pribadi masih dapat mengerti dengan peristiwa tutupnya seluruh penerbangan hari itu, karena ini adalah peristiwa alam, sesuatu yang manusia tidak dapat berbuat apa-apa. Bagaimanapun, abu vulkanik yang banyak dapat mengganggu visualitas dan performance penerbangan, jadi sikap pemerintah dengan menutup sementara bandara adalah hal yang bijaksana. Saya dapat berkata seperti ini meskipun saya juga mengalami “penderitaan” karena penutupan tersebut, jadi harapan saya para pembaca yang kebetulan juga mengalami hal yang sama saat itu, dapat memahami kebijakan tersebut dan tetap menghargai pemerintah.