
Belum lama ini saya baru benar-benar menyadari kalau biaya asuransi yang saya keluarkan untuk saya dan pasangan bisa mencapai 20% dari pendapatan perbulan kami. Sebelumnya saya tidak terlalu menghitung karena tagihan asuransinya per-tahun, tetapi setelah saya mencoba bayar dengan kartu kredit lalu saya cicil 1 tahun (karena sedang ada promo ubah cicilan gratis), saya baru ngeh hitungan perbulannya. Sebenarnya saya masih punya asuransi jiwa juga yang cukup murah, biasanya saya topup 1x per tahun, jadi kalau komponen ini dimasukkan juga, boleh dibilang secara overall, biaya asuransi jadi 20% tadi.
Apakah besar? dalam konteks budgeting, ya besar. Tetapi dalam konteks proteksi manfaat yang diberikan plus usia saat ini, sepadan. Worth it. Btw, asuransi kami ini semuanya premium.
Untuk manfaat jika meninggal nilainya minimal 1 Miliar/orang (punya saya lebih besar. hahaha). Buat saya pribadi, manfaat ini amat sangat penting untuk anak, jadi no-kompromi. Kemudian untuk proteksi sakit, sesuai tagihan. Memang saat ini kami tidak pernah menggunakannya.. puji Tuhan karena artinya kami tidak pernah sakit yang parah. Kalau sekedar flu atau meriang atau diare toh tidak perlu sampai ke rumah sakit. Namun mengingat usia yang semakin meninggi, tentu proteksi ini tetap harus ada.
Beberapa waktu lalu saudara saya jatuh dari genteng saat memperbaiki atap. Tulang belakangnya ada yang tergencet sehingga harus operasi. Saya tidak pernah terbayangkan bisa sampai ada kejadian seperti ini, tapi memang hal-hal seperti inilah yang menjadi alasan seseorang itu perlu memiliki asuransi. Amit-amit, siapa sih yang mau sakit? siapa yang mau kecelakaan? Tetapi semuanya bisa terjadi. Kalau istilah trendnya “gak ada hari apes di kalender”. Karena itu kita perlu punya proteksi.
“Kan ada bpjs, min?” Ya betul. Minimal masing-masing kita punya bpjs. Hanya kita tau sama tau juga, bahwa bpjs vs asuransi premium itu analoginya seperti makan di warteg vs makan di restoran. Beda pelayanan, beda fasilitas, dan beda obat juga. Problemnya adalah, ada beberapa penyakit yang memiliki “golden period” (masa emas). Saya mungkin kurang bisa menjelaskan dengan pas karena saya bukan orang medis, tetapi menurut saya masa emas itu adalah periode dimana efek penyakit belum menetap sehingga orangnya bisa pulih kembali seperti sedia kala. Sangat disayangkan sekali jika golden period itu lewat hanya karena kita perlu antri untuk bisa ada tindakan medis ketika penyakitnya datang.
Jujur saja, ada 1 teman saya yang pasangannya seperti itu dulu. Dia kena stroke, dan kita tau bahwa stroke itu ada golden period. Memang langsung bisa dibawa ke rumah sakit, tetapi sayangnya tindakan pasca serangannya lama… saya tidak perlu jelaskan lebih detil, intinya keadaannya semakin memburuk. Kenapa? karena harus antri. Waktu itu saya sampai berpikir, seandainya dia punya asuransi premium dan ketika serangan terjadi langsung dibawa ke rumah sakit swasta dan langsung diambil tindakan, kemungkinan besar hasil akhirnya akan berbeda. Ini memang asumsi saya, tetapi saya percaya dengan “golden period” tadi.
Kesimpulannya, menurut saya, biaya untuk kesehatan memang diperlukan. Jika kondisi finansial kita sudah cukup mapan (biasanya setelah 10-15 tahun bekerja tetap, apalagi suami-istri bekerja) maka asuransi premium perlu dipertimbangkan. Belilah asuransi premium itu selagi sehat, sebelum ada riwayat di rumah sakit, karena ketika sudah ada riwayat, bisa bayar mahal pun belum tentu asuransi mau menerima. Proteksi ini untuk jangka panjang, jadi tidak bisa dilihat dalam jangka pendek.
