Pertolongan dari Atas

Tiket saya pulang ke Jakarta dimulai dari penerbangan dari Sapporo – Haneda pada pukul 8 pagi, dengan estimasi flight 2 jam. Setelah itu penerbangan lanjutan dari Haneda – Jakarta jam 12 dan estimasi tiba di Jakarta jam 5 sore. Disini terlihat spare waktu antara penerbangan pertama dan kedua tidak banyak, yang sebenarnya tidak masalah karena bandaranya sama, hanya beda terminal. Artinya yang penting sesuai jadwal maka pasti akan aman. Permasalahan baru terjadi jika tidak bisa terbang di flight jam 8 pagi tersebut.

Dari jauh sebelum keberangkatan ke Sapporo, saya sudah merencanakan, kami harus bisa sampai di airport sepagi mungkin untuk bisa mengejar flight jam 8. Saya sengaja memesan hotel yang jaraknya cukup dekat dengan stasiun kereta bandara. Anehnya memang, kereta bandara itu baru jalan dari jam 6, dengan estimasi perjalanan 37 menit sampai bandara. Ternyata counter check in di airport Sapporo memang baru pada open jam 6.30, dan karena penerbangan domestik masih bisa checkin/drop bagasi maksimal 30 menit sebelum flight. Saya sudah pastikan juga untuk mengisi e-wallet Suica nya dari sehari sebelum agar tidak perlu beli-beli tiket. Datang-tap-masuk, tiba-tap-keluar. Semua sudah direncanakan dengan matang, sudah disimulasikan, dan saya kira semuanya akan berjalan lancar. Tetapi ternyata ada kejadian diluar dugaan.

Kejadian unexpected pertama adalah tidak bisa check in online. Memang tiket promo ini melibatkan 2 maskapai dimana sepertinya sistemnya belum join dengan benar sehingga masih ada error. Artinya saya perlu check in manual. Saya pikir hal ini masih tidak masalah karena jika sesuai rencana, kami akan tiba di bandara sebelum jam 7.

Di hari H, ada sedikit keterlambatan di perjalanan ke stasiun kereta bandara sehingga kami baru tiba jam 6.35. Untungnya kami bisa segera naik kereta yang jam 6.37, hanya selang 1 menit sebelum pintu kereta tertutup. Thanks, God! Saya pikir masih bisa tiba di airport jam 7 lewat sedikit. Aman. Tetapi kemudian ada kejadian tak terduga lainnya.

Ketika hampir jam 7, masinis berbicara banyak [dalam bahasa Jepang] dan beberapa kali menyebut kata Chitose. Nama airport nya memang New Chitose dan saya melihat beberapa penumpang dekat pintu keluar berdiri. Entah mengapa saat itu saya berpikir bahwa kami sudah mau sampai bandara sehingga saya pun siap-siap di pintu keluar. Ketika kereta sampai, pintu terbuka, beberapa penumpang turun dan kamipun ikut turun. Setelah itu terlihat kereta menutup pintu dan pergi.

Kemudian barulah terjadi perasaan aneh.. kenapa turunnya di area outdoor? sepengalaman saya naik kereta bandara di beberapa negara, kereta bandara tiba di dalam bandara sehingga mestinya langsung masuk area dalam gedung. And guess what.. ternyata kami salah turun. Chitose yang disebutkan masinis ternyata bukan airport tetapi kota yang namanya Chitose. Langsung saya menjadi panik, karena waktu terus berjalan. Kami coba masuk area kedatangan disitu dan mencari-cari petugas, berharap ada yang bisa ditanya, tetapi tidak ada petugas. Selain itu tidak ada papan informasi yang bisa dimengerti karena semuanya tulisan Jepang. Jujur saya menjadi sangat takut, karena jika kami tidak bisa ikut penerbangan jam 8, otomatis kami tidak akan bisa ikut penerbangan yang ke Jakarta-nya. Saya hanya bisa berdoa minta tolong kepada Tuhan dalam hati.

Kami lalu coba naik kembali ke jalur tadi kami turun, dan saya coba tanyakan kepada seorang warga Jepang arah ke airport. Seorang anak muda sehingga saya berharap minimal dia bisa mengerti bahasa Inggris. Puji Tuhan anak muda itu berusaha membantu meskipun bahasa Inggrisnya tidak lancar. Dia coba menjelaskan bahwa jalur tersebut benar untuk ke bandara, dan setelah ini akan ada kereta datang tetapi bukan ke bandara karena ada 2 jalur di depan, jadi harus menunggu kereta berikutnya. Ia-pun sampai mencari informasi di hp nya beberapa saat, kemudian mengatakan bahwa kereta ke arah bandara berikutnya jam 7.13. Saya senang sekali dapat informasi tersebut dan berterima kasih kepadanya.

Dan benar, tidak lama (sekitar jam 7 lewat 8 atau 9 menit) sebuah kereta datang tetapi karena anak muda tadi sudah mengatakan bukan kereta ini, kami menunggu kembali. Jam 7.14 menit datang lagi kereta dan kami langsung naik. Kami yakin ini adalah kereta yang ke bandara.

Permasalahan selesai? Belum. Karena sampai jam 7.20 belum sampai bandara juga. Saya kira sudah dekat sekali dari posisi kami naik tadi. Saya berdoa lagi minta tolong kepada Tuhan agar kami masih bisa check in, karena saya tau Jepang cukup ketat dalam hal waktu. Saya lalu infokan kepada keluarga saya kalau saya akan turun duluan, dan lari ke counter check in. Minimal ketika bisa diproses, ada sedikit waktu dan saya tinggal bilang yang lain sedang on the way.

Dan seperti itulah kami lakukan. Ketika kereta akhirnya sampai jam 7.25, saya sudah bersiap paling dekat pintu sambil memegang kartu e-wallet. Saya hanya bawa ransel supaya bisa lari. Ketika pintu kereta terbuka, saya langsung setengah berlari. Tap di gate dan langsung lari sambil melihat arah ‘domestic flight‘ dan saya terus berdoa dalam hati minta tolong kepada Tuhan agar saya bisa tiba tepat waktu. Saya bersyukur informasi di bandara pasti ada bahasa Inggrisnya sehingga saya tidak kesulitan mencari. Begitu tiba di counter check in, sambil ngos-ngosan saya langsung menyerahkan paspor dan tiket fisik. Setelah melihat tiket fisik saya, petugas terlihat mengetik di komputernya. Thanks GOD! saya percaya masih bisa di proses check in. Ketika petugas menanyakan orang lainnya, saya mengatakan ‘they are coming here, on the way‘ sambil saya melihat-lihat ke arah tadi saya datang. Syukur tidak lama saya sudah bisa melihat keluarga saya. Mereka setengah berlari juga mencari-cari saya.

Sampai disini cerita “petualangan kaget” saya. Akhir ceritanya sudah diketahui… kami bisa naik flight jam 8, kemudian lanjut lagi flight jam 12 dan kembali ke Jakarta.

Kesimpulan saya hanya satu, saya percaya semua dapat terjadi atas pertolongan Tuhan. Saya yakin Tuhan mendengar permintaan tolong kami, dan Tuhan menuntun kami sedemikian rupa sehingga kami tetap bisa naik pesawat yang sudah dijadwalkan meskipun ada kejadian tak terduga.

Dalam hidup ini akan selalu ada kejadian-kejadian tak terduga, dalam berbagai situasi dan kondisi. Apapun itu, saya yakin ketika kita minta tolong kepada Tuhan, maka akan ada pertolongan dari Atas. Amin!