
Beberapa waktu lalu saya tertarik membaca artikel-artikel dari sebuah web yang berbasis di Singapura. Web tersebut memberikan informasi-informasi seputar apa yang terjadi di sana, apakah dalam hal ekonomi, politik, keuangan, sampai ke hubungan personal. Yang kebanyakan saya baca adalah artikel yang terkait keuangan dan hubungan personal. Ternyata, hidup di negara maju tidak membuat seseorang pasti memiliki kebahagiaan ataupun kemapanan hidup.
Malahan, saya mendapati cukup banyak persoalan yang dihadapi orang-orang di sana, meskipun secara penghasilan cukup besar. Well, jika di rupiahkan bisa dikatakan sangat sangat besar. Info yang saya dapatkan dari mbah gugel, rata-rata penghasilan pekerja formal disana adalah S$5.000/bulan. Asumsi 1 SGD 12 ribu rupiah, maka rata-rata gaji mereka disana adalah 60 juta rupian sebulan. Kalau di Indo, gaji 60 juta / bulan sudah tergolong senior manajer ke atas.
Lalu persoalannya apa? nomor satu adalah biaya hidup yang tinggi. Bayangkan saja, dari apa yang saya tangkap, kebanyakan orang-orang yang berpenghasilan “UMR” disana harus mengeluarkan lebih dari 50% pendapatan hanya untuk menyewa tempat tinggal. Ini sewa ya alias ngontrak atau mungkin ngekos. Jika mereka ingin mencicil beli rumah tinggal, kemungkinan besar mereka harus join income dengan orang lain (teman, pasangan atau mereka akan cari-cari orang yang mau join bareng. wkwkwk…). Ini baru untuk tempat tinggal, belum makan, belum transportasi, belum keinginan-keinginan. Dalam hal hubungan personalpun, karena faktor finansial yang seperti demikian akhirnya membuat banyak hambatan juga. Banyak yang ragu untuk menikah apalagi punya anak karena potensi biaya yang besar, tidak sedikit yang retak hubungan karena tempat tinggal yang dibeli bersama, dll. Ujung-ujungnya, lebih banyak tekanan dan stress. Istilah kerennya sekarang, ‘kena mental’
Padahal, dulu ketika saya masih muda (sekarang sudah ngga :p), banyak teman kuliah saya yang ingin tinggal dan bekerja di Singapura. Kemudian kalau ada keluarga yang kerja di sana, saudara kalau cerita tuh bangganya sampai seperti diangkat jadi anggota kerajaan. Gengsinya tuh luar biasa deh. Seolah-olah kalau bisa kerja dan tinggal di Singapura itu artinya sudah pasti akan sukses dan bahagia.
Saya kasitau ya, saudara-saudara, teman-teman, semua yang membaca post saya ini…. tinggal di Singapura TIDAK menjamin sukses dan bahagia. Menurut saya malahan lebih enak tinggal di Indonesia. Jauh lebih murah dan lebih mudah. titik.
Kesimpulannya? untuk menjadi sukses dalam hal keuangan, tidak ditentukan berapa yang kita hasilkan, apalagi dimana kita tinggal, tetapi ditentukan dari seberapa baik kita mengatur keuangan. Apakah tinggal di Indo, di Sing, di Malay, di Amrik… kalau pengelolaan uang buruk, mau gaji seperti gaji direktur pun pasti akan habis tak bersisa, tetapi jika pengaturan finansial baik pasti akan mencapai kebebasan finansial. Yes!!!
