Dewasa karena usia

Beberapa waktu lalu saya dengar cerita di radio tentang pengalaman pasangan yang pernah berantem luar biasa, sampai hampir terjadi kecelakaan lalu lintas. Jadi dapat dikatakan bahwa pertengkarannya itu sudah memiliki resiko bahaya nyawa. parah, kan? Katanya mereka sudah niat untuk berpisah, tetapi karena pertimbangan anak-anak, keputusan berpisah di tangguhkan. Jadi kalau saya bayangkan, mereka dirumah itu sudah tidak seperti suami-istri, tetapi seperti pengurus anak-anak.

Yang menarik, ketika penyiar bertanya “lalu sekarang kalian sudah berpisah?” dijawab “Tidak.” Ternyata dengan berjalannya waktu, hubungan mereka justru semakin baik. Dan sempat terucapkan oleh si penelepon kata-kata “sudah tua”. Ketika kata-kata itu terucap, saya memiliki sudut pandang lain, yaitu pada dasarnya kita semakin dewasa karena usia.

Ketika masih muda dulu, saya juga merasa banyak keinginan, banyak ekspektasi, banyak kemauan. Saya senang ketika dipuji, saya suka jika dianggap mampu, saya tidak suka diremehkan, saya tidak mau dianggap gagal, dll. Menurut saya semua ini wajar dialami oleh orang-orang muda. Namun demikian, ketika usia sudah semakin tinggi, pemikiran cenderung berubah.

Saat ini saya sudah masuk usia kepala 4. Dari pribadi saya sendiri, saya merasa sudah tidak banyak memikirkan hal-hal yang tadi saya sebutkan ketika saya muda dulu. Serius. Saya lebih senang mikir bagaimana saya bisa terus sehat, saya lebih suka merenungi tujuan hidup saya, saya ingin banyak memberikan daripada berharap diberikan, dll. Mungkin hal-hal ini pula yang terjadi pada pasangan yang bercerita di telepon tadi. Ketika usia sudah semakin tua, mereka lebih memikirkan apa yang terbaik untuk anak-anak dibandingkan sekedar bertengkar dengan pasangan atau mementingkan ego. Bahkan sepertinya justru dengan adanya pasangan, planning untuk hari depan anak-anak menjadi lebih terencana, lebih tidak menjadi beban.

Bagaimana menurutmu?