
Post ini saya tulis untuk mengurangi kekesalan saya, selain untuk memberikan wawasan bagaimana realitas persaingan bisnis di luar sana.
Beberapa waktu lalu, salah satu project di perusahaan tempat saya bekerja secara tidak langsung di “bajak” oleh kompetitor. Kebetulan saya adalah PIC dari project tersebut, makanya saya juga kesal, karena saya tau persis bahwa Client me-replace kami [sebagai vendor] bukan karena perfomance turun, bukan karena kelalaian, bukan karena kesalahan, tapi semata-mata karena ada issue yang seperti disengaja.
Kronologis singkatnya, transaksi Client ke perusahaan saya tiba-tiba berhenti jam 16.05 di hari Senin. Transaksi yang biasanya mencapai ribuan per-hari tiba-tiba stop pada jam tersebut karena ada gangguan koneksi. Malam harinya Client bertanya kepada kami dikarenakan ada cukup banyak user mereka tidak dapat bertransaksi, dan setelah kami melakukan pengecekan, kami memastikan bahwa issue berada di sisi Client, yaitu ada yang mengutak-atik network sehingga mengakibatkan koneksi ke arah kami menjadi berhenti. Setelah dikonfirmasi ke pihak internal Client, memang ada yang melakukan perubahan port sistem sehingga posisi saya / kami sebagai vendor “tidak bersalah”.
Keesokan harinya, transaksi masih kosong sehingga saya bertanya di group chat mengenai problem koneksi tersebut, dan salah satu PIC dari sisi Client hanya mengatakan bahwa issue sedang diinvestigasi di internal mereka. Saya dan tim tidak bisa berbuat apa-apa karena memang masalah bukan dari sisi kami, tetapi dalam konteks ini saya tenang dan hanya berharap sisi Client dapat segera mengatasi. Namun ternyata keesokan harinya lagi (hari ke-3 gangguan koneksi), tiba-tiba saya dijapri oleh rekan yang menangani bisnis, menyatakan bahwa Client menggunakan vendor alternatif atas perintah petinggi, dengan alasan user mereka tidak bisa transaksi lewat koneksi kami. Disini saya kaget.
“Koq gitu?” respon spontan saya. Saya mulai kesal karena problem terjadi bukan karena kesalahan kami sebagai vendor. Yang anehnya, orang yang mengutak-atik network sehingga terjadi problem koneksi dikabarkan masuk rumah sakit esok hari setelah kejadian, yang mengakibatkan penggantinya tidak bisa segera memperbaiki karena harus merunut apa-apa yang sudah dilakukan. Gangguan transaksi yang cukup lama ini yang menjadi penyebab utama petinggi di sisi Client memerintahkan menggunakan vendor lain.
Luar biasa, kan! sontak saya terpikir mengenai konspirasi. Di hari ke-4 akhirnya koneksi tersambung kembali, dan user sudah bisa bertransaksi, tetapi banyak transaksi yang sudah dialihkan ke vendor alternatif tidak dikembalikan ke jalur kami.
Overall, saya kesal sekali, karena itu tadi, Client me-replace kami bukan karena penurunan performance atau kelalaian atau kesalahan yang kami lakukan, tetapi karena ada kejadian yang sebenarnya disebabkan oleh pihak Client sendiri. Ketika saya curhat ke kakak saya, dia merespon dengan 1 kalimat summary “bisnis memang seperti itu.” Lalu dia juga cerita contoh-contoh lainnya, misalnya bagaimana sebuah kerjasama bisnis yang sudah mapan tiba-tiba dihentikan dan diberikan kepada pihak lain hanya karena petingginya ada main ‘dibawah tangan’, atau vendor bisa tiba-tiba diganti ketika petinggi diganti sambil “bawa” vendor lain, dll, dll, dll, dll.
Akhirnya sih saya bisa menerima kejadian itu. Bagaimanapun, yang sudah terjadi tidak akan bisa dirubah, dan keputusan juga ditangan Client, jadi tidak ada yang bisa saya lakukan. Dan hal ini menjadi perenungan saya juga, apakah ketika suatu saat saya memutuskan berbisnis, akan ada hal-hal atau permainan seperti itu? Jujurly saya bukan tipe orang yang bisa “bermain” dalam hal bisnis, dan saya juga tidak berniat untuk belajar hal itu, meskipun ada potensi deal bisnis bernilai miliaran sekalipun.
Mungkin memang saya tidak cocok berbisnis, jadi pekerja biasa saja, dah. hahahaha….
