Translate dengan konteks

Saya paling suka sharing hal ini.

Bagaimanapun, manusia itu memang jauh lebih baik dari mesin, robot, atau AI sekalipun. Saya percaya hal ini; karena manusia memiliki akal budi untuk berpikir.

Dalam hal translate, jauh lebih baik apabila dilakukan oleh manusia. Memang benar, kita manusia ada keterbatasan dalam hal vocabulary yang jumlahnya sangat banyak, tetapi kita bisa menterjemahkan dengan konteks, sesuatu yang mesin tidak bisa lakukan.

Konteks disini bicara mengenai istilah yang pas… yang tepat.. ketika menterjemahkan sesuatu. Misalnya kita ingin translate sebuah dokumen mengenai peraturan perusahaan, maka kita pasti paham bahwa kita harus menggunakan istilah-istilah seputar hukum dan juga baku. Atau kita ingin menterjemahkan buku keuangan, tentu kita akan pakai istilah keuangan. Jika kita menggunakan istilah-istilah yang umum saja, hasil terjemahannya akan terasa kurang okeh, kurang pas.

Saya bicara mengenai dokumen peraturan perusahaan, karena saya dulu memang pernah dipekerjakan untuk menterjemahkan dokumen yang isinya mengenai hal tersebut. Saya diberikan dokumen berisi bahasa Indonesia dan diharapkan untuk membuat dokumen yang dalam bentuk bahasa Inggris. Dalam perjalanan saya menyelesaikan pekerjaan tersebut, saya baru menyadari bahwa ada banyak sekali istilah yang khusus dipakai dalam peraturan perusahaan. Dan dari pengalaman inilah saya akhirnya mendapatkan kesimpulan, memang kita harus menterjemahkan dengan konteks, apabila ingin mendapatkan hasil yang optimal.

Jadi tidak perlu mesin translator, dong?” Perlu banget! Seperti yang saya sudah sebutkan juga di atas, kita punya keterbatasan dalam hal mengingat ribuan atau ratusan ribu vocabulary, jadi mesin penterjemah itu akan sangat membantu memunculkan vocab-vocab yang kita mungkin lupa atau belum tau. Selain itu juga, kamus (dictionary) dan thesaurus juga sama pentingnya karena kita akan bisa mengetahui definisi ataupun sinonim yang pas.

Kesimpulan saya adalah, dalam hal menterjemahkan, manusia tetap menjadi pemegang kendali nya karena kita bisa berpikir dengan konteks, dan mesin translator menjadi asisten kita. Enak, kan?