Demi pujian

Belum lama ini di game yang saya mainkan, ada event spesial, di mana ada semacam selebrasi hari jadi si game itu. Jadi ceritanya di jam yang sudah di tentukan, di screen akan bermunculan hadiah-hadiah gratis (ditebarkan di random spot) sehingga user perlu mencari & klik untuk bisa mengambil hadiah tersebut. Seru, deh. Selain hadiah gratis, para user juga bisa “menambah” hadiah dengan membeli paket dengan uang [real]. Harga paketnya bervariasi, ada yang $4,99 sampai $99,99. Tentunya harga mempengaruhi jenis hadiah yang bisa diterima para user. Jika ada user yang membeli paket, di spot hadiahnya akan tertera nama si pembeli sehingga para user yang mengambil hadiah akan mengetahui, itu hadiah dari siapa. Dapat gambaran ya, kira-kira..

Di komunitas game saya, ada banyak yang membeli paket, mulai dari yang termurah sampai termahal, dan jumlahnya tidak kecil, kawan… kalau saya hitung-hitung, pembelian paket hadiah di event yang hanya berlangsung 1 jam itu nilainya diatas $2.000. Jika di rupiah kan kira-kira 34 juta rupiah. Yang menarik, ada 1 orang yang membeli hampir separuh dari nilai yang saya sebutkan tadi. Jujur saja saya heran, mengapa dia sampai mau mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk permainan / game. Barang yang dibeli tidak berwujud di dunia nyata, hanya ada di dalam aplikasi, yang jika di uninstall, hilang.

Memang, karena orang tersebut membeli paket yang banyak, banyak sekali pujian dan ucapan terima kasih disebutkan di chat, mulai dari kata-kata sampai emoticon / emoji. Saya juga mengucapkan terima kasih, dong. Tapi saya pribadi sama sekali tidak membeli paket. Sayang duit. hahahaha….

Poin dari cerita saya adalah.. saya yakin di dunia ini ada banyak orang yang mengeluarkan uang hanya demi pujian. Apakah worth? Mungkin tergantung pribadi masing-masing, dan tergantung kantong.

Jika memang duitnya banyak, tidak ber-seri / unlimited, ya mungkin wajar jika seseorang mengeluarkan uang banyak, apapun tujuannya… apakah untuk mendapat pujian, status, atau sekedar ingin tebar duit. Untuk case “sultan” seperti ini memang tidak bisa menggunakan logika, hanya bergantung pada emosi atau perasaan. Kalau si sultan lagi hepi, mungkin dia akan berbagi banyak uang.

Namun jika duit terbatas, apalagi masih kerja sama orang, mestinya kita perlu banyak berpikir ketika akan mengeluarkan uang. Untuk apa keluar duit dan mendapatkan pujian beberapa menit, tapi keuangan berantakan apalagi dikejar penagih hutang. Ngga worth banget, gak, sih?